12:08, ketika ego diri mengalahkan segalanya…
“….Dan kerikil perkasa berlarian,
meluncur laksana puluhan peluru…
terbang bersama teriakan TAKBIR…
semua menjadi saksi atas langkah keberanianmu…
kita juga menjadi saksi atas keteguhanmu,
ketika yahudi-yahudi membantaimu,
merah bersimbah tanah airmu,
mewangi harum genangan darahmu
membebaskan bumi jihad Palestina…”
sebuah bait-bait syair nasyid yang berjudul “MERAH SAGA” yang selalu mengingatkanku pada sebuah Negara kecil yang mungkin tidak lebih besar dari pada Magetan tempatku dilahirkan….
Maupun seluas Semarang tempatku mewujudkan impian.
Sebuah Negara yang begitu populer di tahun 2009, karena pada waktu itu semua perhatian dunia tertuju padanya...
tetapi entah kenapa sekarang seakan-akan terlupakan,
Ironis memang…
Sebuah Negara yang tengah berjuang mempertahankan harga diri islam, tetapi masih sempat memperhatikan saudaranya yang ada di Indonesia tanpa kita semua sadari.
Yach… aku kaget sekaligus terharu ketika membaca sebuah artikel majalah yang mengabarkan bahwa rakyat gaza palestina yang sedang dirundung duka memberikan bantuan pada korban merapi berupa uang sebesar 4000 Dollar ketika mereka sendiri membutuhkan uang itu.
Aku jadi berfikir inilah ukhuwah yang sebenarnya…
Aku jadi malu pada diriku sendiri,
Disini aku tidak akan membahas soal palestina yang sebenarnya masih saja kritis…
Aku Cuma bisa berdo'a karena memang itulah yang aku mampu…
tiba-tiba...
Aku jadi terkenang masa-masa di SMA dulu… sewaktu akan menjalani ujian akhir nasional yang aku lupa tanggal dan harinya.
aku dan teman-temanku berkumpul di halaman sekolah untuk mendengarkan pengumuman.
Saat itulah ada hal yang unik…
Salah satu temanku ada yang melihat awan membentuk Asma Allah.entah kebetulan atau apa aku tidak tahu.
Juga ketika aku bangun tidur dan keluar ingin menghirup udara segar, aku juga menjumpai hal yang serupa.
Ada awan yang begitu jelasnya membentuk Asma Allah di langit pagi itu.
Entah apa maksud semua itu aku tidak mau berkomentar.
Tapi ada satu yang mengganjal di hatiku,
“Kenapa dengan munculnya semua itu kita jadi bisa mengingat Allah…?"
"Kenapa tanda-tanda di sekitar kita tidak mampu mengingatkan kita tentang ke-Maha Besaran Allah…?"
"Mengapa tidak bisa mengingat Allah pada hari-hari biasa…?"
Sebuah pertanyaan yang sebenarnya lebih pantas aku tujukan pada diriku sendiri…!
Wallahu’alam…
Pikiranku kembali mengingatkanku akan sebuah “Taman Surgaku” dulu yang entah kapan akan kurasakan lagi manisnya. Disana aku ingat dengan jelas Bp. Utsman Khadafi pembimbing "Taman Surgaku" dulu sering memberikan motivasi padaku tentang Nikmat Allah yang sering terlupakan oleh manusia yaitu UDARA…
Yach UDARA yang setiap harinya kita hirup secara gratis.
“ pernahkah kita berfikir seandainya udara tidak lagi gratis…?” Tanya beliau kepada kami.
Kami semua terdiam tak ada yang berkomentar.
kemudian beliau melanjutkan ceritanya…
Sekali tariakan nafas, kita menghirup setengah liter udara, dalam satu menit rata-rata kita bernafas 15-20 kali, atau sama dengan 7,5-10 liter udara.
Jadi udara yang kita perlukan dalam satu menit kita asumsikan saja1,5 liter, padahal kalau kita mau sejenak saja berkunjung kerumah sakit dan bertanya berapa harga satu liter oksigen murni, pasti mereka menjawab Rp.25.000,- per liter….maka dalam satu menit kita menghabiskan RP.37.500,- dan karena dalam satu hari ada 1440 menit maka udara yang kita habiskan senilai Rp.54.000.000,- atau Rp.19,7 milyar dalam setahun,…jelas beliau…”
Lagi-lagi kami semua hanya mampu terdiam tak berkomentar apapun…
Aku jadi berfikir, untungnya Allah Ar-Rahman Ar-Rahim masih memberikanya secara Cuma-Cuma,
sesuatu yang sudah sepantasnyalah aku syukuri.
Jadi teringat sebuah sajak yang sering dibacakan Bp. Sarjo ketika aku bertemu dengan beliau. Saking seringnya aku mendengarkan sajak itu, sampai-sampai hafal diluar kepala.
Beliau bilang, sajak dari IQBAL inilah yang selalu buat semangat kita kembali terlecut…
Inilah bunyi sajak itu…
“ Janganlah kamu bermain dengan handai taulanmu didarat,
Disana melodi kehiduapan berjalan lambat…
Terjunlah ke tengah samudera,
Lawanlah ombak gelombang…
Kebahagiaan adalah hasil perjuangan.
Disini… tiada tempat untuk berhenti,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar