Bumi Allah, 18 januari 2011
22:45; ketika bintang begitu malu untuk membagi sinarnya
dikesunyian malam.
Apa yang terbayang di benak kita ketika mendengar kata
“SEMANGAT”….!
Pastinya sesuatu yang positif tentunya.
Aku jadi terkenang, ketika beberapa bulan yang lalu aku
dipercaya untuk menjadi ketua panitia kemah bakti mahasiswa di kampusku.
Sesuatu yang tidak pernah terfikirkan
sebelumnya. Kadang ada sedikit rasa senang karena aku bersyukur masih ada yang
percaya denganku… sedih karena aku takut mengecewakkan semuanya.
Jadi ingin mengutip kata-kata dahlan iskan CEO-PLN…beliau
bilang,
“Sedih, senang,
ketawa, menangis semua bergantung suasana kejiwaan.
Pemilik jiwa
sendirilah yang mampu menyetel suasana kejiwaan masing-masing.
Mau dibuat sedih atau
gembira,
Mau dibuat menangis
atau tertawa,
Semua bisa…betapa
relatifnya jiwa”
Awalnya aku rasa hal ini akan berjalan dengan mudah dan
lancer, karena teman-teman yang dipilih jadi panitia terlihat kompak…aku
bersyukur…
Aku juga tidak terlalu ngotot apabila menyuruh teman-teman
melakukan tugasnya,yang aku lakukan adalah lebih memberikan kepercayaan dan
tanggung jawab kepada mereka.
Karena Dahlan iskan juga pernah bilang…
“Orang yang terlalu
sering diberi arahan akan jadi BEBEK…
Orang yang terlalu
sering diberi instruksi akan jjadi BESI…
Orang yang terlalu
sering diberi peringatan akan jadi KETAKUTAN…
Orang yang sering
diberi pidato kelak hanya bisa minta PETUNJUK…”
Tapi,
Yang baru aku sadari adalah, kami semua bukanlah anggota PLN
yang terpilih dari seleksi yang ketat dan memiliki tanggung jawab yang tinggi.
Kiranya masih banyak kekurangan yang ada pada kami…
terutama aku…
ENTAHLAH…
Sebuah pembelajaran yang takkan pernah terlupakan. Yach…
pembelajaran bahwa memimpin itu tidak mudah. Seringkali kita dengan mudahnya
menyalahkan, mencaci-maki, bahkan menghujat, padahal kita tidak tahu kondisi
sebenarnya seperti apa…
SUDAHLAH…
Berbicara masalah pembelajaran, aku jadi teringat…
Waktu itu ketika aku melaksanakan kemah bakti, aku bertemu
dengan salah seorang anak dari dusun indrokilo kec. Ungaran barat yang
berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Jarak yang ditempuhnya tidak
main-main yaitu 3-4 km. ditambah lagi jalan yang di lalui berupa perbukitan
bukannya datran biasa.
Inilah pembelajaran yang sesungguhnya tentang semangat dan
tekat yang kuat.
Walaupun sebenarnya aku sering juga mengalaminya.
Alhamdulillah acara itupun berjalan dengan “baik”, walaupun
masih banyak kekurangan di sana sini tetapi satu yang ku catat…
“Semangat kebersamaan kami yang begitu kuat…!”
Aku bersyukur…
Terkadang aku banyak belajar tentang arti kerja keras dari
orang-orang yang justru menurut orang lain tidak ada apa-apanya. Tetapi jauh
dibalik semua itu merekalah yang melejitkan semangat dalam diriku.
Pikiranku kembali mengingat sebuah kejadian yang terjabi
beberapa tahun silam. Tepatnya di sebuah koridor rumah sakit swasta di
semarang. Disana aku bertemu dengan seorang anak kecil penjual Koran yang
sedang menjajakan korannya. Sewaktu aku melintas, anak kecil itu mendekatiku
dan menawarkan korannya…dia tersenyum padaku…manis sekali…
dia bilang…”mas, Koran mas..buat bayar uang sekolah…”
degg…terkejut aku dibuatnya…
tersentak…kaget…becampur haru…,rasanya ingin sekali
meneteskan air mata melihat semangat anak kecil itu. Aku jadi berpikir, ketika
terkadang aku masih sering mengeluh dengan
kondisi yang ada, jauh diluar sana masih banyak orang yang mampu
melejitkan potensinya justru dari kekurangan yang ada pada dirinya.
Aku jadi sadar inilah CINTA…
Yach…kekuatan CINTA yang melahirkan harapan dan pengabdian
bagi siapa saja yang mempersembahkan hasil kerja mereka.
Walaupun aku tidak tahu CINTA itu apa, tetapi satu yang aku
yakini…
CINTA pada Allah adalah sumber kekuatan terbesar…
ENTAHLAH….aku tidak mau membahas masalah CINTA lagi disini…
Kembali kepada anak kecil tadi.
Kulihat dia begitu bersemangat, tak ada sedikitpun raut
kekecewaan yang tampak di wajah manisnya tentang kemalangan nasib yang menimpa
dirinya.
SUBHANALLAH…
Kebali untuk kesekian kalinya pikiranku melayang entah
kemana….
Aku jadi teringan fenomena yang terjadi di masyrakat. Aku
tidak tahu apkah ini yang namnaya kota besar, karna setahu aku di MAGETAN
sebuah kota indah di lereng gunung lawu dimana kau dilahirkan dulu tidak ada
fenomena semacam ini…
Setiap kali aku pulang dari kampus, aku selalu melihat tepat
di pemberhentian lampu merah ada nank-anak, pemuda, orang tua yang lebih
memilihmeminta-minta dari pada bekerja secara halal…
Ironisnya setiap hari bukanya berkurang, malah bertambah
saja jmlahnya..
Entah siapa yang harus disalahkan atas fenomena
ini…wallahu’alam…
Ketika disis lain aku melihat semangat anak kecil dari dusun
indrokilo dan anak kecil penjual Koran tadi, disisi lain aku melihat sebuah
pemandangan yang kontras dari sebua kota yang punya slogan”….pesona Asia”
Jadi teringat hadist nabi…
“Dari ibnu Umar RA bahwa Rasulullah Saw bersabda “Orang yang
selalu meminta-minta pada orang lain, akan dating pada hari kiamat dengan tiada
segumpal dagingpun diwajahnya”
(Muttafaq Alaihi)
“Dari Abu Hurairah RA, bahwa
Rasulullah Saw besabda” barang siapa meminta-minta harta orang lain
untuk memperkaya diri, sebenarnya ia hanya meminta bara api, oleh karenanya
silahkan meminta sedikit atau banyak”
(HR.Muslim)
Finally…
Ketika bintang belum juga berani menampakkan sinarnya di
kesunyian malam, aku banyak belajar tentang arti kehidupan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar