Selasa, 27 Maret 2012

Haruskah jadi yang terakhir kalinya…?





Magetan, Senin 16 Mei 2011

Surat seorang sahabat,

Bissmillah,
“Semua penulis akan mati, hanya karyalah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu dia akhirat nanti.”(Ali bin Abi Thalib)

Apa kabar sahabat…? Hope you well and do take care…
Allah selalu bersama kita,

Sahabat,
Jujur aku bingung mau cerita apa, karena banyak sekali yang ingin aku ungkapkan disini,
Banyak sekali yang ingin aku bagi pada kalian,
Tentang ketakutan…kecemasan…dan keharuan…

Sahabat,
Rasanya kita sudah berteman begitu lama, Kita telah menjalani episode hidup ini dengan  berbagai cerita, Menumpuk banyak rasa, menumpuk banyak sekali perasaan.
Kadang aku bertanya dalam hati,”sampai kapankah persahabatan ini akan bertahan…?”
Aku terkadang merasa takut bila harus mengenang semuanya.
Karena di dunia inilah tanpa sengaja kita telah berjumpa,
Disnilah kita tertawa,
Disinilah kita mengenang segalanya…
Disinilah kita menebar pesona,
Disinilah kita menangis dalam asa…menyelami samudera kehidupan,
Terjerumus dalam angan-angan…
Disinilah kita merindukan hal itu bersama…
Dan disinilah kita…

Sahabat,
Kadang saat aku menulis catatan seperti ini, pasti aku membacanya berulang-ulang kali sebelum mem-postingnya. karena aku  takut menyinggung perasaan kalian. Aku takut membuat kalian kesal dengan tulisanku.
Mungkin aku bukanlah orang se-perfect “Habibburahman El-shirazy” didalam menulis, yang dengan tulisannya mampu membuat semua orang menangis. Oleh karena itulah, saat kalian membaca tulisan ini,aku tidak berharap kalian jadi sedih karenannya.  Justru aku ingin kalian bisa tertawa lepas, karena sahabat kalian yang “bodoh” dulu tengah belajar menulis sesuatu dengan hatinya, bukan dengan nafsunya. Yach…seenggaknya ketika kalian membacanya, kalian jadi tahu bahwa aku masih hidup….walaupun tak bisa untuk berjumpa, aku bersyukur Allah masih memberikan nafas sampai detik ini. Entah sampai kapan….?”

Sahabat,
Aku jadi ingat,
Entah mengapa akhir-akhir ini aku sering hanyut dalam air mata.
aku merenungi setiap sisa perjalanan yang tak pernah aku tahu sampai kapan.
21 tahun bukanlah angka yang kecil dalam perhitungan waktu dunia. Tetapi tidak ada sepersekian detik dalam perhitungan waktu akhirat.
Tetapi apa yang telah aku buat di umur yang sudah 21 tahun ini….TIDAK ADA….
Justru aku sering membuat kalian menangis. Membuat kalian kecewa…sedih karena perbuatanku.
aku sering menghianati kepercayaan kalian.aku sering membuat kalian kesal…kawatir…dan kelakuan-kelakuan “Childist” lainya yang sering aku lakukan.
Ah…andai waktu bisa terulang,ingin sekali kuisi dengan senyum dan ketulusan.

Sahabat,
 inilah yang selalu aku rasakan setiap kali pergantian waktu perjalanan. Pasti terkenang saat nyawa ditarik keluar memisahkan roh dari jasad…itulah bayangan yang sering tergambar dalam fikiran.
Bila bayangan itu datang, tak ada yang aku bisa harapkan selain rahmat dari-Nya mengiringi “sakaratul mautku”.
Sudah cukupkah bekal aku untuk menempuh perjalanan yang jauh itu…?
Itulah yang membuat aku sedih…hiba…dan pilu.

Sahabat,
Terima kasih banyak…
Terima kasih atas motivasi dan dukungan kalian selama ini.
Terima kasih untuk 21 tahun yang hebat ini.
Aku tidak akan pernah bisa melupakannya…

Sahabat,
Jika suatu saat terdengar kabar aku sudah “pergi jauh”…,
maka maafkan semua salah dan silafku, yang aku sadari atau tidak.
Maafkan segala kesombonganku…keangkuhanku…dan kebodohanku,
Aku juga mohon maaf kepada semua umat Nabi Muhammad Saw.
Maaf…maafkan aku,

Sahabat,
Mungkin sampai disini dulu,
Jika Allah masih memberikan kesempatan, pasti aku akan “menulis” lagi untuk kalian.
Saat itu aku ingin membuat kalian semua tersenyum…

Wassalam.


NB:  Terima kasih atas do’a dan kiriman kalian,
         Padahal aku belum mengenal kalian…
         Tetapi kalian begitu “Care”
         Apa itu yang namanya sahabat…? ^_

Sedikitnya Teman Perjalanan, Harga Sebuah Kemuliaan



Oleh Abu Umar Abdillah @ Jumat, 24 Desember 2010 

 
Sedikitnya Teman Perjalanan, Harga Sebuah Kemuliaan
Suatu kali, Umar bin Khathab mendengar seseorang berdoa, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit (minoritas).” Beliau bertanya, “Wahai hamba Allah, apa yang kamu maksud dengan golongan minoritas?”
Orang itu menjawab, “Saya menyimak firman Allah, Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. Hud: 40), juga firman-Nya, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (QS. Saba’ 13). Kemudian orang itu menyebutkan beberapa ayat lagi. Lalu Umar berkata, “Setiap orang memang lebih faqih dari Umar.”
Fragmen ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa untuk meraih derajat yang tinggi dan mulia, harus bersiap menempuh jalan yang sepi dari teman. Karena orang kebanyakan tidak sanggup menempuh puncak ketinggian. Derajat muslim hanya disandang sebagian kecil dari total penduduk bumi yang luas ini. Di antara sekian banyak muslim, hanya sebagian kecil yang menduduki peringkat mukmin. Dan di antara sekian banyak mukmin, hanya sedikit sekali yang mampu meraih derajat muhsin. Dan begitulah, makin tinggi tujuan, makin sedikit teman perjalanan.
Menyadari Konsekuensi Pilihan
Orang yang memiliki cita-cita mulia, harus menyadari pilihan ini. Ia sama sekali tidak terpengaruh atau larut oleh suara kebanyakan. Tidak pula terwarnai oleh tradisi yang sudah menjadi hegemoni. Baginya, itu bukanlah ukuran. Sufyan bin Uyainah RHM berkata, ”Tempuhlah jalan kebenaran, janganlah merasa kesepian dengan sedikitnya teman perjalanan.”
Fudhail bin Iyadh RHM juga berkata, ”Berpeganglah pada jalan hidayah, jangan ragu akan sedikitnya orang yang menempuhnya jalannya. Jauhilah jalan kesesatan, dan jangan tertipu oleh banyaknya jumlah orang yang bergabung bersama mereka.”
Begitulah semestinya sikap kita dalam memegangi kebenaran, demikian pula usaha kita dalam meraih cita-cita. Bukankah orang yang masuk jannah tanpa hisab lebih sedikit dari penghuni jannah yang lain? Bukankah ’imam fid dien’ (pemimpin dalam agama) lebih sedikit dari pada jumlah makmum yang di belakangnya?
Jika ingin sukses dengan tingginya capaian ilmu dan amal, jangan menjadikan kebiasaan awam sebagai ukuran. Jika usaha kita setara dengan orang kebanyakan, kita baru bisa dikatakan sebagai sembarang orang, belum mencapai kedudukan ’bukan orang sembarangan’.
Ibnu Mas’ud memberi nasihat kepada penyandang al-Qur’an agar berbeda dengan umumnya orang, ”Sudah sepantasnya bagi penyandang al-Qur’an menghidupkan malamnya di saat manusia tidur, shaum di siang hari di saat manusia berbuka, menunjukkan kesedihannya saat manusia bersenang-senang, menangis di saat manusia tertawa, diam saat manusia banyak bicara, khusyu’ saat manusia tampak kesombongannya.”
Bahkan Allah juga mengingatkan kepada para istri Nabi agar menjaga kemuliaan mereka dengan tidak menyerupai orang awam dalam berkata dan berbuat. Tidak sepantasnya mereka meniru wanita lain, dan justru kaum wanitalah yang seharusnya menjadikan mereka sebagai panutan. Allah berfirman,
Wahai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertaqwa.” (QS. al-Ahzab: 32)
Ibnu Katsier RHM berkata, ”bahwa jika mereka bertakwa kepada Allah sebagaimana yang Allah perintahkan, maka tak ada wanita yang menyerupai mereka, dan tak ada wanita yang mampu menandingi kemuliaan dan kedudukan mereka.”
Menepis Rasa Keterasingan
Menggapai kedudukan tinggi memang harus bersiap menjadi manusia langka, orang asing dan beda dari yang lain. Adalah manusiawi jika terkadang dia merasa kesepian. Untuk menepis rasa ini, kita bisa bergabung dalam kafilah orang-orang yang jauh keutamaannya di atas kita, meski mereka hidup di zaman sebelum kita. Seperti yang dilakukan oleh Abdullah bin Mubarak RHM tatkala diajak mengobrol usai shalat beliau menjawab, ”Aku ingin segera bergabung bersama para sahabat dan para tabi’in. Aku ingin membaca kitab dan mencatat perkataan mereka. Sedangkan bila aku nongkrong bersama kalian, apa yang bisa kudapatkan?”
Ini semisal dengan wejangan sebagian salaf yang disebutkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah RHM dalam Madaarijus Saalikin, ”Jika suatu kali kamu merasa kesepian karena sedikitnya teman, maka lihatlah teman perjalanan yang telah berada di depan, berusahalah untuk menyusul mereka. Janganlah pandanganmu terpaku kepada selain mereka (yang lebih lambat dari jalanmu), karena hal itu tak akan berguna bagimu di sisi-Nya. Jika mereka menyerumu untuk melambatkan jalanmu, janganlah menoleh kepada mereka. Karena sekali saja kamu menoleh, mereka bisa mengejarmu. Seperti perumpamaan kijang dan serigala. Sebenarnya kijang lebih kencang larinya dari serigala. Hanya saja tabiat kijang selalu menoleh begitu merasakan sesuatu, dan itu akan memperlambat jalannya. Maka serigala pun bisa menangkapnya, karena dia hanya fokus dengan apa yang menjadi tujuannya.”
Penulis juga pernah mendengar, seorang da’i yang melewati hutan dengan motor, tak sengaja menabrak harimau yang sedang mengejar mangsanya. Harimau terjatuh, namun itu tidak merubah fokusnya untuk mengejar hewan yang sejak semula hendak dimangsanya.
Begitulah mestinya pemburu derajat mulia yang sebenarnya. Selalu fokus dengan cita-citanya yang mulia. Lingkungan ataupun kondisi umumnya manusia yang suka berlambat dan leha-leha semestinya tidak menghambat laju geraknya. Sebagai realisasi dari wasiat Nabi SAW,
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Bersungguhlah melakukan apa yang bermanfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah.” (HR Muslim)
Tingkat kegigihan, ketegaran dalam menghadapi segala rintangan, dan optimisme dalam menjawab semua tantangan harus di atas rata-rata umumnya orang. Waktu belajarnya, melebihi waktu belajarnya orang-orang, dan tingkat pengorbanannya melebihi pengorbanan orang-orang sembarangan. Inilah harga yang harus dibayar untuk sebuah kemuliaan, wallahul muwaffiq. (Abu Umar Abdillah)
Posted in Kajian | Tagged kemuliaan, teman perjalanan

Kamis, 22 Maret 2012


Subhanallah...!!! Itu yang pertama terlintas di benak saya ketika melihat cuplikan tentang riwayat seorang doktor cilik yang faham dan hafal Al-Qur'an.  Masing-masing dari kita mungkin bertanya-tanya, Siapa anak itu?? Inilah tanda kebesaran Allah yang hadir dan ditunjukkan dizaman kita sekarang.

Dia seorang anak Iran, yang dikaruniai Allah karunia terindah, kemampuan hafal dan memahami Al-Qur'an di usia yang sangat belia. Di usia 5 tahun, Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i sudah bisa menghafal seluruh isi Al-Qur'an dan menerjemahkannya, ia bisa memahami makna ayat-ayat tersebut dan ia sering menggunakannya dalam perrcakapannya sehari-hari. Kefahaman atas Al-Quran tersebut menjadikan ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang Allah telah firmankan dalam Al-Qur'an, pun ia bisa menjelaskan suatu ayat dalam Al-Qur'an dengan ayat yang lainnya. Subhanallah.

Banyak sekali sessi tanya jawab yang membuat kita tersadar atas keadaan kita di saat ini dari sudut pandang Qur'an.
Dengarlah beberapa jawaban yang keluar dari mulut seorang anak kecil ini:

Seseorang bertanya (T): "Bagaimana pendapatmu tentang budaya Barat"?
Husein menjawab (J) : "(Mereka) menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya" (QS. Maryam:59)
T: Apa pakaian yang kausukai?
J:"Pakaian takwa itulah yang paling baik" (QS. Al-A'raf:26)
T: Dimanakah Tuhan?
J:"Maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah" (QS. Al-Baqarah:115)
T: Jika seseorang menzalimi dan memukulmu, apa yang kau lakukan?
J:"Dan dalam qishash itu ada hidup bagimu." (QS. AL-Baqarah:179){maksudnya Husein akan membalas pukulan itu}
T:Siapa yang paling engkau cintai?
J:"Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah." (QS Al-Baqarah:165) {maksudnya yang paling dia cintai adalah Allah}
T: Ayat mana dalam Al-Qur'an yang paling engkau sukai?
J:"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah:128)
T: Apa hadiah terbaik dari ayah kepada anaknya?
J: "Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama." (QS. At-Taubah:122) {maksudnya seorang ayah harus mendidik anaknya dalam bidang agama sebaik-baiknya}
T: Apa pendapatmu tentang sepak bola?
J: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?"(Al-Anbiya:52)
T: Apa pandanganmu tentang Israel?
J: "Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka." (QS. Al-Maidah:41)
T: AS berusaha untuk memutus hubungan antara Iran dengan negara-negara Arab, apa pesan Anda kepada para pemimpin Arab?
J: "Berpeganglah kalian semua pada tali Allah." (QS. Ali Imran:103)
T: Apa pendapatmu tentang kezaliman yang diderita bangsa Palestina hari ini?
J: "Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi." (QS. Al-Maidah:82)
T: Apa pendapatmu tentang para teroris?
J: "Dilaknati Allah mereka." (QS.At-Taubah:30)
T: Apa ayat yang paling berat dalam AL-Qur'an?
J: "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an." (QS.Al-Qamar:17)

Dan masih banyak lagi dialog-dialog yang menarik dengan sang doktor cilik ini.

Di sana diceritakan perihal bagaimana amalan orang tua Husein sehingga memperoleh karunia besar seorang anak yang hafal dan paham Al-Qur'an. Tentang bagaimana orang tua Husein yang bertekad menghafalkan Al-Qur'an sebelum kelahiran Husein, sang ibu yang selalu membaca minimal 1 juz setiap hari selama hamil dan menyusui, ibu yang selalu berwudlu terlebih dahulu sebelum menyusui Husein. Dan banyak lagi penuturan orang tua Husein yang bisa diteladani.

Dibuku ini juga dicantumkan bagaimana motivasi yang benar dalam menghafal Al-Qur'an, sehingga anak-anak tidak sekedar bisa hafal mengucapkan ayat-ayat Qur'an tanpa salah tapi tidak tau maknanya. Bahwa motivasi yang benar dalam menghafal Qur'an adalah demi mencapai ketenangan dalam hidup. Anak-anak yang menghafal Al-Quran akan menjadikan Quran sebagai panduan hidupnya ditengah kehidupan masa kini yang telah penuh kemaksiatan, keboborokan moral.

Dibuku ini diuraikan pula metode-metode yang menyenangkan untul menghafal dan memahami Al-Qur'an, seperti metode isyarat tangan yang diajarkan ayahanda Husein kepada Husein ketika dalam proses menghafalkan Qur'an, metode bermain dan bercerita.

Dibuku ini diceritakan bagaimana Husein mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Hijaz College Islamic University di Inggris pada usia 7 tahun, juga tentang perjalanannya di berbagai negara, dari Mekkah, Qatar sampai Bosnia, juga pertemuan dan perbincangannya dengan berbagai tokoh dunia. Di edisi spesial, kita juga mendapatkan VCD tentang perjalanan Sayyid Muhammad Husein Tabataba'i dalam berbagai forum diskusi Al-Qur'an.

Saya rekomendasikan buku ini untuk dibaca, disana akan banyak hikmah yang kita temui, yang menggugah kesadaran dan memberi semangat kita untuk kembali kepada Al-Qur'an.

Semoga Allah merahmati Muhammad Husein Tabataba'i, semoga menjadi permata umat di zaman ini, semoga kisahnya menginspirasi umat di berbagai pelosok dunia. Amin
Posted by

Teruntuk sahabat yang sudah menggenapkan separuh Diennya...

Sahabatku yg shalehah…..
Sungguh, mendengar kabar pernikahanmu aku sangat bahagia,
Alhamdulillah sahabatku telah menyempurnakan setengah Diennya..
Kini engkau telah menemukan pendamping hidupmu yg senantiasa mencintaimu karena Allah semata..
Yakinlah, bahwa dia adalah seseorang yg terbaik yg telah Allah pilihkan untukmu..
Engkau adalah wanita shalehah yg telah dipertemukan dengan ikhwan yg shaleh..
Semoga Allah memberkahi pernikahanmu..
Dan menjadi keluarga yg Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah..



Sahabatku yg kucintai karena Allah…..
Tak terasa persahabatan kita telah terjalin begitu lama..
Maafkan aku jika selama ini selalu mengecewakan & menyakitimu..
Terima kasih untuk segala sesuatu yg telah engkau berikan untukku..
Terima kasih karena engkau selalu mengingatkan di kala aku lupa,
Menasehati di kala aku salah dan menguatkan di kala aku rapuh..
Engkau adalah sahabat terbaik yg pernah kumiliki dalam hidupku..
Semoga Allah senantiasa mengokohkan persahabatan di antara kita sampai kapanpun..


Sahabatku yg dirahmati Allah…….
Aku tidak bisa memberikan sesuatu yg berharga..
Hanya bisa memberikan do’a untukmu..
“Semoga Allah memberkahi kepadamu & atasmu dan (semoga Allah) mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan.” (H.R. Tirmidzi)
Semoga engkau selalu bahagia bersamanya baik di dunia maupun di akherat..
Di anugerahi oleh Allah Jundi” kecil yg shaleh & shalehah yg akan memanggilmu “UMMI”..
Bersyukurlah..karena engkau telah menjadi wanita yg paling bahagia di dunia ini..
Do’akanlah aku, semoga akupun segera menyusul langkahmu…^_^

Kado Walimah untuk Sahabatku di Bumi Allah..


Sukabumi,  10 November 2010
By: Dinul Islam Jamilah

Ibu.. seputih ikhlas kasih abadi,

Kata orang aku lahir dari perut…Ibu
Bila dahaga,yang susukan aku…Ibu
Bila kesepian,yang senantiasa disampingku…Ibu
Ibu bilang, kata pertama yang aku sebut…Bu!’
Bila bangun tidur aku cari…Ibu
Bila nangis, orang pertama yang datang…Ibu
Bila ingin bermanja…aku dekati…Ibu
Bila sedih, yang bisa membujukku hanya…Ibu
Bila nakal, yang memarahi aku…Ibu
Bila merajuk, yang membujukku cuma…Ibu
Bila melakukan kesalahan…yang cepat marah…Ibu
Bila takut yang menenangkan aku…Ibu
Bila ingin memeluk, yang aku suka memeluk…Ibu

Aku selalu teringat Ibu
Bila sedih…aku mesti telepon Ibu
Bila senang,orang pertama yang ingin kuberitahu…Ibu
Bila bingung, aku suka curhat pada Ibu
Bila takut, aku selalu panggil…”Ibuuuuuuuuuuuuu!”
Bila sakit…orang yang paling risau…Ibu
Bila akan ujian, orang yang paling sibuk juga Ibu
Bila buat perkara, yang marahi aku dulu…Ibu
Bila ada masalah, yang paling risau pasti…Ibu

Yang masih peluk aku hingga saat ini…Ibu
Yang selalu masak kegemaranku…Ibu
Yang selalu simpan dan kemaskan barang-barangku, Ibu
Yang selalu puji aku…Ibu
Yang selalu nasihati aku…Ibu
Bila hendak menikah…Orang yang aku tunjuk dan rujuk…Ibu


****
Setelah aku punya pasangan hidup sendiri
Bila senang…aku cari Pasanganku
Bila sedih…aku cari Ibu
Bila sukses…aku ceritakan kepada Pasanganku
Bila gagal…aku ceritakan pada Ibu
Bila bahagia,aku peluk erat Pasanganku
Bila berduka,aku peluk erat Ibuku
Bila libur…aku bawa Pasanganku
Bila sibuk…aku antar anak kerumah Ibu
Selalu…aku ingat Pasanganku
Selalu…Ibu ingat Aku
Bila telpon…aku akan telpon Pasanganku
Entah kapan…aku akan telpon Ibu
Selalu aku belikan hadiah untuk Pasanganku
Entah kapan aku belikan hadiah untuk Ibuku

****
Dulu Ibu kata …:”Kau tak usah pikirkan Ibu…
Kalau kamu sudah habis belajar dan dapat bekerja,
Bolehkah kalau kamu mau kirim uang untuk Ibu…
Ibu bukan mau banyak…lima puluh ribu sebulan pun cukup…

****
Berderai air mata….
Hari ini, kalau Ibu mau lima ratus ribu sebulan pun aku mampu…,Aku bisa..
Tapi Ibu sudah tiada….

Adakah kau masih ada Ibu…


 

Akhwatku sayang 3

Akhwatku Sayang...
engkau ibarat sekuntum bunga...
bunga yang melambangkan sesuatu kecantikan...
sesuatu yang indah...
sesuatu yang berseri...
engkau hadir laksana hawa yang mengisi kesunyian adam...
engkau menjadi penyeri suasana di maya pada...

Akhwatku Sayang...
engkau dimasyhurkan karena tidak ditonjolkan...
engkau tersembunyi biarpun hadirmu menggegarkan...
senyumanmu adalah rahasia yang tersingkap...
tangisanmu adalah rasa hati,
dan kegelisahanmu adalah pemberontakan kasih sayang...

Duhai Akhwatku Sayang...
engkau bagaikan mawar berduri....
yang dari kejauhan sudah tercium keharumanya...
yang dari kejauhan menampakkan kilauan warna
yang memancar indah mengundang keagungan ciptaan-Nya...

Akhwatku Sayang...
sesuatu yang tertutup itu lebih berharga jika dibandingkan sesuatu yang terbuka...
umpama mutiara yang ditampakkan untuk perhatian umum
dengan mutiara yang tersembunyi,
pasti yang tersembunyi itu melebihi daripada yang tampak...
permata di celahan kaca,
permata dibalik timbunan pasir halus,
ibarat jua sekuntum mawar berduri di taman larangan...

Duhai Akhwatku Sayang..
tidak inginkah engkau menjadi hamba,
yang menghiasai wajahnya dengan titisan air wudhu...
bibir dengan tilawatil qur'an dan zikrullah...
mata memandang segala keindahan af'aullah di muka bumi dan langit.
yang terbentang begitu luasnya...
telinga yang di perdengarkan tazkirah-tazkirah...
yang akan menambah ma'rifat kepada-Nya...
akal yang tafakur dan tadabur setiap bait-bait kalamullah,
dan hati yang musyahadah kepada Allah Ta'la...

Akhwatku Sayang...
alangkah indahnya sekirannya engkau mampu menjadi seperti sayidatina Fatimah RA...
yang begitu terpuji akhlaknya...

Duhai Akhwatku Sayang...
paras rupa yang cantik adalah bonus dan ujian kepada pemiliknya...
usah menyalahgunakannya karena ia akan dikembalikkan kepada pemiliknya...

Akhwatku Sayang...
kita memang suka akan keindahan...
seringkali keindahan itu diibaratkan dengan kecantikan...
tetapi sebenarnya keindahan itu adalah menurut-Nya...
sungguh Allah TIDAK MELIHAT RUPA dan HARTA kalian...
tetapi ia MELIHAT HATI dan AMAL kalian(HR.Muslim)

afwan lancang...