Bumi Allah, 20 Februari 2011
23:40; Ketika diri tengah memikirkan esensi dari Cinta Illahi...
Malam ini jangan tanyakan kepadaku tentang perasaan hatiku...
aku sama sekali tidak bisa memberikan diskripsi,
bahkan mungkin tak akan pernah bisa menggambarkannya.
ENTAHLAH...itulah kata favorit yang selalu aku berikan ketika aku merasakan kebingungan.
sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tuliskan, tetapi diri ini susah mencari kata...
juga mungkin banyak sekali yang diri ini rasakan, tetapi tidak semuanya mampu kuterjemahkan kedalam kata-kata.
hanya tersimpan didalam rasa dan jiwa...
yach...itulah kenyataannya.
jadi terkenang ketika beberapa waktu yang lalu aku sempat membeli 4 buah novel dari sebuah toko buku yang ada di semarang,
“gak penting” emang untuk di bahas...
tapi yang aku heran, dari ke-empat novel itu isinya hampir semuanya sama yaitu masalah perrnikahan...
apa maksud dari semua ini aku tidak mau berkomentar...
juga ketika aku dipinjami novel dari salah seorang insan, lagi-lagi isinya masalah pernikahan...
dan ketika beberapa waktu yang lalu aku pulang ke magetan, aku sempat berbincang dengan salah satu temanku...dan ia mengabarkan bahwa salah satu teman SMA kami baru saja melangsungkan pernikahan....
jadi terdetik sebuah pertanyaan dalam hati,
“Apa lagi demam nikah cie, kok semuanya bahas masalah pernikahan...?"
ENTAHLAH...
aku jadi teringat ketika beberapa waktu yang lalu tepat pada tanggal 14 februari yang sering disebut banyak orang sebagai "hari kasih sayang", entah kenapa waktu itu banyak sekali teman-teman yang sms padaku yang isinya hampir semuanya sama.
aku tidak perlu menguraikan isi sms itu disini, karena memang tidak penting untuk kuuraikan.
yang mengganjal di hatiku saat ini adalah, aku melihat dua fenomena yang sangat jauh berbeda antara PERNIKAHAN...dan PACARAN... yang semuanya bermuara pada satu kata...CINTA...
yach...jadi bahas masalah cinta lagi disini...
jadi ingin mengutip sebuah hadist...
"Sesungguhnya apabila engkau perhatikan 7 golongan yang diberi perlindungan Allah dalam naungan Arsy-Nya pada hari tiada naungan kecuali hanya naungan-Nya, niscaya engkau dapati mereka adalah”...Dua sekawan yang saling mencintai karena Allah..."
(HR.Bukhori-Muslim)
CINTA...yach sebuah kata yang tidak asing lagi bagi diri ini…
Sesuatu…yang kata orang tidak akan pernah habis untuk dibahas, tidak tertelan zaman, tidak lapuk termakan musim, biar kemarau datang, biar hujan melanda, makna cinta tetap terukir nyata..
Yach..walaupun sejak awal aku tidak bisa mengurai makna cinta itu sendiri…
ENTAHLAH…
Orang sering sekali berlindung dibalik kata “CINTA”. Mereka bilang,bahwa dengan Cinta segalanya terasa indah. Orang bisa hidup susah dan menderita selama ia berada di samping orang yang dicintainya.
Namun…betulkah ada cinta seperti itu? Bila ada, dimana ia berada?
***
Cinta merupakan rasa yang ada dalam hati, yang tidak bisa di halang-halangi. Hati yang merasainya bisa terhibur atau tersiksa karenanya. Ia datang dari dua sumber yaitu dari nafsu dan dari Allah.
Menarik memang…
ada orang yang masuk syurga karena Cinta…dan tidak sedikit pula yang akan dihujamkan ke neraka gara-gara cinta…
Lalu, Cinta yang bagaimankah yang mampu meindungi manusia sehingga bisa menikmati indahnya syurga…?
Itulah cinta yang disemai karena iman dan takwa. Mungkin saja ia muncul dari sepasang suami istri, dari dua orang teman dekat, dari ibu dan anak , atupun dari seorang ayah dan buah hatinya. Semuanya adalah cinta yang disemai karena keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Sebuah cinta yang tidak melulu pada lawan jenis…tetapi bisa juga dari dua sekawan yang saling mencintai karena Allah. Bertemu karena Allah…berpisah karena Allah…
Terkadang ingin sekali aku merasakan cinta yang seperti ini…ingin sekali ku-nyatakan cinta pada seorang yang melabuhkan cintanya pada Allah…tapi dimana…?
ENTAHLAH…
Jadi teringat sebuah kisah yang menarik mengenai cinta yang seperti ini.
Yaitu Cinta sahabat Abi Idris Al-khaulany kepada sahabat Mu’adz Bin Jabal.
Abi Idris senantiasa mendapati sahabat Mu’adz beribadah di masjid Damaskus. Kapanpun ia datang kemasjid, selalu saja Mu’adz telah datang mendahuluinya…Kenyataan ini membuat Abi Idris sadar, betapa Mu’adz adalah seorang manusia yang teramat mencintai Allah, sehingga menghabiskan banyak waktunya untuk beribadah di rumah Allah.
Suatu hari, Abi Idris melihat Mu’adz tengah beristirahat dari ibadahnya di serambi masjid. Abi Idris-pun mendekati sahabat Mu’adz kemudian ia mengungkapkan isi hatinya, bahwa dirinya mencintai Mu’adz dengan Cinta yang murni, Yaitu cinta karena Allah. Sahabat Mu’adz-pun menyambut Cinta itu dengan penuh bahagia.
(HR.Imam Malik)
Jadi…
Sebelum menerima Cinta, telitilah dulu cinta seperti apa yang di tawarkan…
Adakah cinta yang ditawarkan itu atas nama Allah, ataukah sekedar Nafsu…? Karena Cinta yang berlandaskan nama Allah akan membawa pada kebaikan. Cinta seperti ini pantas dibalas. Namun Cinta yang berlandaskan nafsu hanya akn mengajak pada kejahatan.
Ah, ENTAHLAH…
Finally,
Setiap orang punya jalan yang berbeda-beda.
“Semoga saja jalan yang sedang kutempuh saat ini adalah jalan terbaik untukku, Jalan terbaik yang diridhai Allah…”
Yach, pada dasarnya setiap manusia tidak tahu mana yang terbaik baginya, mana yang terbaik menurut Allah. Terkadang, seorang membenci sesuatu keadaan namun sesungguhnya keadaan itulah yang terbaik baginya dan sebaliknya…!
Demikianlah Hidup…!
***
“Ya Allah…Engkau sungguh Maha Pengatur segalanya. Hamba percaya, apapun yang Engkau tetapkan adalah yang terbaik bagi setiap hamba-Mu. Berilah hamba kemudahan dan kekuatan untuk menjalani skenario Takdir-Mu ini…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar